Blogger Layouts

Friday, May 6, 2011

Di Bawah Lindungan Ka'abah

MicrosoftInternetExplorer4

Pengarang : Hamka

Tebal : 64 halaman.

Cetakan ke-18, PT Bulan Bintang, Jakarta, 1998.

Diterbitkan pertama kali oleh NV Bulan Bintang, Jakarta, 1975.

Dicetak oleh PT Karya Unipress, Jakarta.

Penerbit dan penyebar : PT Bulan Bintang,

Jalan Keramat Kwitang I/8, Jakarta 10420.

Sinopsis

Pada suatu hari ada seorang anak laki-laki yang tinggal di keluarga yang telah kehilangan ayah di umurnya yang masih 4 tahun dan ia pun belum mengenal sama sekali sosok ayahnya tersebut. Hari-harinya pun dilewati bersama ibunya. Sampai akhirnya anak laki-laki yang bernama Hamid tersebut dipanggil oleh salah satu tetangganya dan berubalah hidup Hamid. Hamid yang saat itu sedang giat-giatnya mencari uang untuk bersekolah, diangkat atau dipandang menjadi saudara sendiri oleh tetangganya tersebut dan disekolahkanlah Hamid bersama-sama dengan anak tetangganya sendiri, Zainab. Hamid pun tumbuh menjadi anak yang pandai dan berperilaku terpuji, seperti ayahnya dahulu.

Tahun pun berlalu sangat cepat. Tanpa disadari mereka berdua telah menamati sekolahnya masing-masing. Zainab yang seorang perempuan melanjutkan sekolahnya dirumahnya dengan cara memanggil guru dari luar. Sedangkan Hamid akan melanjutkan sekolah agama ke Padang Panjang.

Setelah berapa lama kemudian, dengan tidak disangka-sangka seseorang yang telah sangat berjasa kepada keluarga Hamid meninggal dunia. Hal ini membuat hubungan Hamid dengan keluarga Zainab tidak sedekat seperti dulu. Selang beberapa waktu, Hamid mendapat bencana kembali. Ibunya yang selalu menemaninya, meninggal juga dikarenakan penyakit. Sebelum ibunya meninggal, ibunya berpesan bahwa ia mengetahui tentang perasaan Hamid ke Zainab dan sempat memberikan saran-saran ke Hamid.

Atas kematian ibunya, Hamid pun menjadi merasa sebatang kara. Ia mulai berfikir tentang hidupnya dan perasaannya ke Zainab. Ia selalu berfikir bahwa ia tidak pantas untuk Zainab, derajat dan pergaulan sangat membedakan. Sampai akhirnya, Hamid memutuskan untuk melakukan perjalan jauh dan mengirim surat perpisahan untuk Zainab. Perjalan jauh Hamid pun berujung di Mekah. Disana ia menghabiskan waktu untuk merenung dan berdoa.

Pada suatu saat pun, dating rombongan yang berasal dari tanah air Hamid, dan tidak disangka-sangka ikut serta pula sahabat Hamid di tanah airnya. Mereka berdua sangat bahagia dan memulai pembicaraan. Ternyata terungkaplah pernyataan Zainab tentang perasaan yang dirasakannya. Ia merasakan hal yang sama seperti yang Hamid rasakan. Mengetahui hal itu, Hamid merasa bersalah terhadap Zainab. Zainab sendiri pun yang tidak mengetahui keberadaan Hamid, selalu menanti kedatangan Hamid. Dari hari ke hari, kondisi Zainab semakin lemah. Ia tidak ingin makan, tidak ingin melakukan hal apapun. Hal ini disebabkan penantiannya kepada Hamid.

Keesokan harinya, datang surat kilat dari istri sahabat Hamid yang tidak lain yaitu sahabat Zainab sendiri. Di surat, dikatakan bahwa Zainab telah tiada. Mendengar hal itu, Hamid yang sedang sakit memaksakan diri untuk mengelilingi Ka’bah. Akhirnya Hamid pun mengakhiri hidupnya di tempat terakhir ia mengucapkan doa kepada-Nya sesaat setelah Zainab meninggal.

No comments:

Post a Comment