Manfaat dari studi filsafat yaitu untuk membuka cara dan wawasan berfikir, dan membiasakan seseorang agar tidak berhenti pada lapisan permukaan kehidupan saja, melainkan dapat masuk ke tataran hidup yang lebih mendalam.
Di dalam ilmu psikologi, kita diajarkan untuk berpikir kritis karena berfikir kritis memiliki peranan penting di dalam ilmu psikologi. Pemikir yang kritis itu ialah pemikir yang tidak langsung menerima suatu pemikiran atau informasi begitu saja. Pemikir itu akan meneliti terlebih dahulu pemikiran yang datang ke mereka. Mereka akan memilah milah dan mencari sumber yang dapat terpercaya apakah kebenaran dari suatu informasi itu terbukti kebenarannya atau tidak.
Filsafat juga berperan sangat penting sebagai alat refleksi dan analisis kritis terhadap slogan-slogan ideologis, system dan struktur, kebiasaan dan tradisi, serta praktek – praktek dalam masyarakat.
Melihat peranan dan manfaat dari filsafat, serta mengetahui betapa pentingnya sikap kritis di dalam psikologi, maka kita dapat menyimpulkan bahwa filsafat sangat berguna di dalam ilmu psikologi untuk membantu berfikir lebih kritis dalam menyelesaikan dan menanggapi masalah-masalah yang timbul.
Showing posts with label filsafat. Show all posts
Showing posts with label filsafat. Show all posts
Monday, February 14, 2011
Menjadi Manusia : Belajar dari Aristoteles
Pengarang : Franz Magnis – Suseno
Penerbit : Kanisius
Kota penerbit : Yogyakarta
Jumlah halaman : 68 halaman
Manusia melakukan suatu perbuatan karena didasarkan oleh suatu tujuan. Di dalam buku ini, akan diterangkan lebih lanjut mengenai tujuan manusia sebenarnya menurut Aristoteles. Kita perlu mengetahui apa tujuan manusia yang sebenarnya agar kita dapat mengarahkan hidup kita untuk mencapai tujuan yang baik. Dalam mengetahui tujuan manusia, Aristoteles bertolak dari sebuah fakta bahwa apa pun yang dilakukan manusia selalu dilakukan demi sebuah tujuan. Aristoteles beranggapan bahwa kita melakukan sesuatu bukan demi sebuah tujuan melainkan karena suatu maksud. Apabila maksud tersebut sudah dapat kita jalankan, kita akan mendapatkan suatu tujuan hidup.
Tujuan hidup sendiri dibagi menjadi dua yaitu tujuan sementara dan tujuan akhir. Tujuan sementara bermanfaat untuk menjembatani ke tujuan akhir. Tujuan akhir menurut Aristoteles yaitu kebahagiaan. Jawaban Aristoteles tersebut sangat masuk akal karena jelaslah bahwa kebahagiaan merupakan tujuan terakhir manusia.
Dalam mencapai tujuan, kita hendaknya hidup secara bermoral. Apabila kita langsung mengusahakan kebahagiaan, kebahagiaan tersebut suka mengelak. Dalam mencapai kebahagiaan, kita diajarkan untuk mengejar nikmat sebanyak-banyaknya. Kunci pengertian Aristoteles tentang nikmat adalah bahwa nikmat bukan sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan sesuatu yang “mengikuti” dalam arti bahwa nikmat selalu berkaitan dengan suatu perbuatan. Jadi menurut Aristoteles, kegiatan apa pun dapat membawa nikmat selama kegiatan itu berhasil diselesaikan. Kita tidak diperbolehkan untuk berfokus pada kenikmatan karena kebahagiaan tidak dapat dicapai dengan mengejar perasaan nikmat dan menghindar dari perasaan sakit.
Aristoteles berkata bahwa ada tiga cara hidup yang bisa menjadi tujuan dari masing-masing individu. Ketiga cara itu ialah hidup yang mengejar nikmat, filsafat dan politik. Aristoteles menolak apabila nikmat dijadikan manusia sebagai tujuan hidup. Filsafat adalah kegiatan orang ber-theoria. Dengan ber-theoria, manusia memperoleh sophia, kebijaksanaan. Jadi, filsafat adalah kegiatan memandang penuh kagum hal yang abadi-ilahi. Sedangkan politik merupakan puncak kesosialan manusia. Sosial bagi Aristoteles berarti lebih daripada sekedar ada kerja sama. Makna sebenarnya yang dimaksud oleh Aristoteles mengenai berpolitik adalah keterlibatan penuh manusia dalam urusan masyarakatnya.
Dalam kehidupan kita, kita harus membangun kekuatan intelektual dan etis yang membuat kita mampu untuk memberi arah yang semestinya pada hidup kita. Dalam bahasa Aristoteles, ia menyebut hal ini sebagai keutamaan hidup. Aristoteles sendiri menganggap bahwa keutamaan merupakan suatu kemantapan. Contohnya, keutamaan dalam berfikir berarti keutamaan intelektual.
Ada tiga keutamaan kunci yaitu phronesis, sophia, dan episteme. Sophia adalah kebijaksanaan dalam arti kemampuan manusia untuk memandang yang ilahi, yang abadi. Sedangkan phronesis adalah kebijaksanaan dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Sophia berarti perhatian pada ide-ide. Episteme adalah ketajaman pengetahuan ilmiah. Phronesis baru bisa menjadi efektif apabila ditunjang oleh keutamaan etis.
Orang yang memiliki keutamaan adalah orang yang semakin kuat, mantap, dan bahagia. Aristoteles menegaskan bahwa keutamaan bukan suatu nafsu ataupun bakat alami, melainkan sesuatu yang perlu kita pelajari. Tiga sikap yang harus dihindari dalam kehidupan kita ialah kejahatan, ketidakmampuan dan kekasaran. Kita juga harus mengetahui diri kita sendiri agar kita sadar apa kekuatan dan kelemahan kita.
Menurut Aristoteles, manusia mencapai puncak keutamaan dalam persahabatan sejati. Ada tiga macam persahabatan, persahabatan atas dasar saling menguntungkan, atas dasar saling menikmati dan atas dasar saling menyenangi atau mencintai. Hal terpenting dari hubungan antara para sahabat adalah cinta. Cinta hanyalah sejati apabila tujuannya tidak demi perkembangan sendiri, melainkan tulus demi sahabat. Kemampuan untuk mencintai bagi Aristoteles merupakan tanda bahwa orang memiliki keutamaan tinggi. Cinta kepada sahabat berjalan seiring dan bersama dengan cinta pada dirinya sendiri.
Dua pengertian tentang hidup menurut aristoteles adalah bahwa hidup secara moral membuat manusia bahagia dan bahwa kebahagiaan tidak diperoleh dengan malas-malsan melainkan secara aktif mengembangkan diri dalam dimensi yang hakiki bagi manusia. Ada dua dimensi yang mendukung kita untuk memperlihatkan kea rah mana harus berusaha. Dimensi tersebut adalah dimensi doa dan masyarakat. Dalam dimensi doa, manusia boleh berkomunikasi dengan Allah. Dalam dimensi masyarakat, manusia akan berkembang apabila ia tidak hanya fokus pada satu perhatian.
Buku ini menggunakan bahasa yang ringan sehingga memudahkan pembaca untuk membacanya. Bacaan di dalam buku ini juga tergolong bacaan berbobot karena kita diajarkan untuk menjadi manusia secara utuh dilihat dari kebutuhan-kebutuhan kita dan kendala-kendala yang biasa kita hadapi di kehidupan sehari-hari. Kelebihan buku ini, buku ini dikemas secara menarik dan dibagi ke beberapa bab untuk memudahkan pembaca memahami lebih dalam setiap bagian yang ada di dalamnya. Kelemahan buku ini, banyak kata-kata yang sering diulang. Sebenarnya menurut saya sebagai pembaca, hal seperti itu tidak harus dilakukan karena sebelumnya sudah pernah disebutkan dan dijelaskan.
Penerbit : Kanisius
Kota penerbit : Yogyakarta
Jumlah halaman : 68 halaman
Manusia melakukan suatu perbuatan karena didasarkan oleh suatu tujuan. Di dalam buku ini, akan diterangkan lebih lanjut mengenai tujuan manusia sebenarnya menurut Aristoteles. Kita perlu mengetahui apa tujuan manusia yang sebenarnya agar kita dapat mengarahkan hidup kita untuk mencapai tujuan yang baik. Dalam mengetahui tujuan manusia, Aristoteles bertolak dari sebuah fakta bahwa apa pun yang dilakukan manusia selalu dilakukan demi sebuah tujuan. Aristoteles beranggapan bahwa kita melakukan sesuatu bukan demi sebuah tujuan melainkan karena suatu maksud. Apabila maksud tersebut sudah dapat kita jalankan, kita akan mendapatkan suatu tujuan hidup.
Tujuan hidup sendiri dibagi menjadi dua yaitu tujuan sementara dan tujuan akhir. Tujuan sementara bermanfaat untuk menjembatani ke tujuan akhir. Tujuan akhir menurut Aristoteles yaitu kebahagiaan. Jawaban Aristoteles tersebut sangat masuk akal karena jelaslah bahwa kebahagiaan merupakan tujuan terakhir manusia.
Dalam mencapai tujuan, kita hendaknya hidup secara bermoral. Apabila kita langsung mengusahakan kebahagiaan, kebahagiaan tersebut suka mengelak. Dalam mencapai kebahagiaan, kita diajarkan untuk mengejar nikmat sebanyak-banyaknya. Kunci pengertian Aristoteles tentang nikmat adalah bahwa nikmat bukan sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan sesuatu yang “mengikuti” dalam arti bahwa nikmat selalu berkaitan dengan suatu perbuatan. Jadi menurut Aristoteles, kegiatan apa pun dapat membawa nikmat selama kegiatan itu berhasil diselesaikan. Kita tidak diperbolehkan untuk berfokus pada kenikmatan karena kebahagiaan tidak dapat dicapai dengan mengejar perasaan nikmat dan menghindar dari perasaan sakit.
Aristoteles berkata bahwa ada tiga cara hidup yang bisa menjadi tujuan dari masing-masing individu. Ketiga cara itu ialah hidup yang mengejar nikmat, filsafat dan politik. Aristoteles menolak apabila nikmat dijadikan manusia sebagai tujuan hidup. Filsafat adalah kegiatan orang ber-theoria. Dengan ber-theoria, manusia memperoleh sophia, kebijaksanaan. Jadi, filsafat adalah kegiatan memandang penuh kagum hal yang abadi-ilahi. Sedangkan politik merupakan puncak kesosialan manusia. Sosial bagi Aristoteles berarti lebih daripada sekedar ada kerja sama. Makna sebenarnya yang dimaksud oleh Aristoteles mengenai berpolitik adalah keterlibatan penuh manusia dalam urusan masyarakatnya.
Dalam kehidupan kita, kita harus membangun kekuatan intelektual dan etis yang membuat kita mampu untuk memberi arah yang semestinya pada hidup kita. Dalam bahasa Aristoteles, ia menyebut hal ini sebagai keutamaan hidup. Aristoteles sendiri menganggap bahwa keutamaan merupakan suatu kemantapan. Contohnya, keutamaan dalam berfikir berarti keutamaan intelektual.
Ada tiga keutamaan kunci yaitu phronesis, sophia, dan episteme. Sophia adalah kebijaksanaan dalam arti kemampuan manusia untuk memandang yang ilahi, yang abadi. Sedangkan phronesis adalah kebijaksanaan dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Sophia berarti perhatian pada ide-ide. Episteme adalah ketajaman pengetahuan ilmiah. Phronesis baru bisa menjadi efektif apabila ditunjang oleh keutamaan etis.
Orang yang memiliki keutamaan adalah orang yang semakin kuat, mantap, dan bahagia. Aristoteles menegaskan bahwa keutamaan bukan suatu nafsu ataupun bakat alami, melainkan sesuatu yang perlu kita pelajari. Tiga sikap yang harus dihindari dalam kehidupan kita ialah kejahatan, ketidakmampuan dan kekasaran. Kita juga harus mengetahui diri kita sendiri agar kita sadar apa kekuatan dan kelemahan kita.
Menurut Aristoteles, manusia mencapai puncak keutamaan dalam persahabatan sejati. Ada tiga macam persahabatan, persahabatan atas dasar saling menguntungkan, atas dasar saling menikmati dan atas dasar saling menyenangi atau mencintai. Hal terpenting dari hubungan antara para sahabat adalah cinta. Cinta hanyalah sejati apabila tujuannya tidak demi perkembangan sendiri, melainkan tulus demi sahabat. Kemampuan untuk mencintai bagi Aristoteles merupakan tanda bahwa orang memiliki keutamaan tinggi. Cinta kepada sahabat berjalan seiring dan bersama dengan cinta pada dirinya sendiri.
Dua pengertian tentang hidup menurut aristoteles adalah bahwa hidup secara moral membuat manusia bahagia dan bahwa kebahagiaan tidak diperoleh dengan malas-malsan melainkan secara aktif mengembangkan diri dalam dimensi yang hakiki bagi manusia. Ada dua dimensi yang mendukung kita untuk memperlihatkan kea rah mana harus berusaha. Dimensi tersebut adalah dimensi doa dan masyarakat. Dalam dimensi doa, manusia boleh berkomunikasi dengan Allah. Dalam dimensi masyarakat, manusia akan berkembang apabila ia tidak hanya fokus pada satu perhatian.
Buku ini menggunakan bahasa yang ringan sehingga memudahkan pembaca untuk membacanya. Bacaan di dalam buku ini juga tergolong bacaan berbobot karena kita diajarkan untuk menjadi manusia secara utuh dilihat dari kebutuhan-kebutuhan kita dan kendala-kendala yang biasa kita hadapi di kehidupan sehari-hari. Kelebihan buku ini, buku ini dikemas secara menarik dan dibagi ke beberapa bab untuk memudahkan pembaca memahami lebih dalam setiap bagian yang ada di dalamnya. Kelemahan buku ini, banyak kata-kata yang sering diulang. Sebenarnya menurut saya sebagai pembaca, hal seperti itu tidak harus dilakukan karena sebelumnya sudah pernah disebutkan dan dijelaskan.
Manfaat-manfaat etika dalam dunia sekarang
Peranan etika dalam dunia modern menyebabkan adanya pluralism moral. Timbulnya masalah-masalah etis baru, seperti seorang pengusaha saos yang lebih mementingkan uang dibanding dengan memikirkan nasib para konsumen saos yang akan merasakan akibat saos yang dibuat secara ‘curang’.
Etika merupakan ilmu tentang norma, nilai dan ajaran moral.
Pluralisme moral diperlukan karena:
1. pandangan moral yang berbeda-beda(suku, budaya, agama);
2. modernisasi membawa perubahan besar dalam struktur dan nilai kebutuhan masyarakat yang akibatnya menantang pandangan moral tradisional;
3. berbagai ideologi menawarkan diri sebagai penuntun kehidupan tentang bagaimana manusia harus hidup.
Etika sosial dibagi menjadi:
• Sikap terhadap sesama;
• Etika keluarga;
• Etika profesi, misalnya etika untuk dokumentalis, pialang informasi;
• Etika politik;
• Etika lingkungan hidup; serta
• Kritik ideologi.
Moralitas
Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat di antara sekelompok manusia. Adapun nilai moral adalah kebaikan manusia sebagai manusia.
Norma moral adalah tentang bagaimana manusia harus hidup supaya menjadi baik sebagai manusia. Ada perbedaan antara kebaikan moral dan kebaikan pada umumnya. Kebaikan moral merupakan kebaikan manusia sebagai manusia sedangkan kebaikan pada umumnya merupakan kebaikan manusia dilihat dari satu segi saja, misalnya sebagai suami atau isteri.
Moral berkaitan dengan moralitas. Moralitas adalah sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau sopan santun. Moralitas dapat berasal dari sumber tradisi atau adat, agama atau sebuah ideologi atau gabungan dari beberapa sumber.
Etika merupakan ilmu tentang norma, nilai dan ajaran moral.
Pluralisme moral diperlukan karena:
1. pandangan moral yang berbeda-beda(suku, budaya, agama);
2. modernisasi membawa perubahan besar dalam struktur dan nilai kebutuhan masyarakat yang akibatnya menantang pandangan moral tradisional;
3. berbagai ideologi menawarkan diri sebagai penuntun kehidupan tentang bagaimana manusia harus hidup.
Etika sosial dibagi menjadi:
• Sikap terhadap sesama;
• Etika keluarga;
• Etika profesi, misalnya etika untuk dokumentalis, pialang informasi;
• Etika politik;
• Etika lingkungan hidup; serta
• Kritik ideologi.
Moralitas
Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat di antara sekelompok manusia. Adapun nilai moral adalah kebaikan manusia sebagai manusia.
Norma moral adalah tentang bagaimana manusia harus hidup supaya menjadi baik sebagai manusia. Ada perbedaan antara kebaikan moral dan kebaikan pada umumnya. Kebaikan moral merupakan kebaikan manusia sebagai manusia sedangkan kebaikan pada umumnya merupakan kebaikan manusia dilihat dari satu segi saja, misalnya sebagai suami atau isteri.
Moral berkaitan dengan moralitas. Moralitas adalah sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau sopan santun. Moralitas dapat berasal dari sumber tradisi atau adat, agama atau sebuah ideologi atau gabungan dari beberapa sumber.
Fenomenalisme
Fenomenalisme adalah aliran atau faham yang menganggap bahwa Fenomenalisme (gejala) adalah sumber pengetahuan dan kebenaran. Seorang Fenomenalisme suka melihat gejala. Dia berbeda dengan seorang ahli ilmu positif yang mengumpulkan data, mencari korelasi dan fungsi, serta membuat hukum-hukum dan teori. Fenomenalisme bergerak di bidang yang pasti. Hal yang menampakkan dirinya dilukiskan tanpa meninggalkan bidang evidensi yang langsung. Fenomenalisme adalah suatu metode pemikiran, "a way of looking at things".
Rasionalisme
Rasionalisme adalah paham yang menyatakan kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan dan analisis yang berdasarkan fakta. Paham ini menjadi salah satu bagian dari pencerahan dimana timbul perlawanan terhadap gereja yang menyebar ajaran dengan dogma-dogma yang tidak bisa diterima oleh logika. Filsafat Rasionalisme sangat menjunjung tinggi akal sebagai sumber dari segala pembenaran. Segala sesuatu harus diukur dan dinilai berdasarkan logika yang jelas. Titik tolak pandangan ini didasarkan kepada logika matematika.
Intuisionisme
Intuisionisme adalah sistem etika lainnya yang tidak mengukur baik tidaknya sesuatu perbuatan berdasarkan hasilnya melainkan semata-mata berdasarkan maksud si pelaku dalam melaksanakan perbuatan tersebut. Intuisionisme, berasal dari bahasa Inggris: intuition, adalah pandangan bahwa manusia memiliki sebuah kacakapan, yang biasa disebut hati nurani, yang memampukan mereka untuk melihat secara langsung apa yang disebut benar atau salah, jahat atau baik secara moral.
Empirisme
Empirisisme adalah pencarian kebenaran melalui pembuktian-pembukitan indrawi. Kebenaran belum dapat dikatakan kebenaran apabila tidak bisa dibuktikan secara indrawi, yaitu dilihat, didengar dan dirasa. Segala kebenaran hanya diperoleh secara induktif, yaitu melalui pengalamn dan pikiran yang didasarkan atas empiris, dan melalui kesimpulan dari hal yang khusus kepada hal yang umum. Empirisisme muncul sebagai akibat ketidakpuasan terhadap superioritas akal. Paham ini bertolak belakang dengan Rasionalisme yang mengutamakan akal. Kebenaran dalam Empirisme harus dibuktikan dengan pengalaman. Peranan pengalaman menjadi tumpuan untuk memverifikasi sesuatu yang dianggap benar.
Deontology dan Utilitaris
Utilitarisme
Berasal dari kata utility dengan bahasa latinnya utilis yang artinya “bermanfaat”. Teori ini menekankan pada perbuatan yang menghasilkan manfaat, tentu bukan sembarang manfaat tetapi manfaat yang paling banyak membawa kebahagiaan bagi banyak orang.
Kekurangan teori ini:
akan ada yang bisa dikorbankan. (diskriminasi etis tionghoa97 dibenarkan selama diskriminasi membawa manfaat)
Kelebihan :
keputusan dapat diambil secara mudah berdasarkan jumlah terbanyak bagi manfaat terbanyak.
Teori ini juga dikatakan sebagai konsekuensionalisme karena segala keputusan diambil atas tinjauan konsekuensi. Konsekuensi paling menguntungkan adalah konsekuensi yang akan diambil.
Deontologi
kata deon berasal dari Yunani yang artinya kewajiban. Sudah jelas kelihatan bahwa teori deontologi menekankan pada pelaksanaan kewajiban. Suatu perbuatan akan baik jika didasari atas pelaksanaan kewajiban, jadi selama melakukan kewajiban berarti sudah melakukan kebaikan. Deontologi tidak terpasak pada konsekuensi perbuatan, dengan kata lain deontologi melaksanakan terlebih dahulu tanpa memikirkan akibatnya. Berbeda dengan utilitarisme yang mempertimbangkan hasilnya lalu dilakukan perbuatannya.
Misalnya, tidak boleh menghina, membantu orang tua, membayar hutang, dan tidak berbohong adalah perbuatan yang bisa diterima secara universal. Semua orang bisa terima bahwa berbohong adalah buruk dan membantu orang tua adalah baik. Nah, kira-kira seperti itulah kewajiban yang dimaksud.
Dalam deontologi, jumlah terbanyak bukanlah ukuran yang menentukan kebaikan tetapi prinsiplah yang menentukan yaitu prinsip bahwa pembunuhan adalah perbuatan buruk dan bagaimana pun juga anjing itu tidak boleh dibunuh.
Berasal dari kata utility dengan bahasa latinnya utilis yang artinya “bermanfaat”. Teori ini menekankan pada perbuatan yang menghasilkan manfaat, tentu bukan sembarang manfaat tetapi manfaat yang paling banyak membawa kebahagiaan bagi banyak orang.
Kekurangan teori ini:
akan ada yang bisa dikorbankan. (diskriminasi etis tionghoa97 dibenarkan selama diskriminasi membawa manfaat)
Kelebihan :
keputusan dapat diambil secara mudah berdasarkan jumlah terbanyak bagi manfaat terbanyak.
Teori ini juga dikatakan sebagai konsekuensionalisme karena segala keputusan diambil atas tinjauan konsekuensi. Konsekuensi paling menguntungkan adalah konsekuensi yang akan diambil.
Deontologi
kata deon berasal dari Yunani yang artinya kewajiban. Sudah jelas kelihatan bahwa teori deontologi menekankan pada pelaksanaan kewajiban. Suatu perbuatan akan baik jika didasari atas pelaksanaan kewajiban, jadi selama melakukan kewajiban berarti sudah melakukan kebaikan. Deontologi tidak terpasak pada konsekuensi perbuatan, dengan kata lain deontologi melaksanakan terlebih dahulu tanpa memikirkan akibatnya. Berbeda dengan utilitarisme yang mempertimbangkan hasilnya lalu dilakukan perbuatannya.
Misalnya, tidak boleh menghina, membantu orang tua, membayar hutang, dan tidak berbohong adalah perbuatan yang bisa diterima secara universal. Semua orang bisa terima bahwa berbohong adalah buruk dan membantu orang tua adalah baik. Nah, kira-kira seperti itulah kewajiban yang dimaksud.
Dalam deontologi, jumlah terbanyak bukanlah ukuran yang menentukan kebaikan tetapi prinsiplah yang menentukan yaitu prinsip bahwa pembunuhan adalah perbuatan buruk dan bagaimana pun juga anjing itu tidak boleh dibunuh.
Perbedaan antara etika, etiket dan ajaran moral
Etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan "self control", karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok sosial (profesi) itu sendiri.
Etika (ethics) berarti moral sedangkan etiket (etiquette) berarti sopan santun.
Etiket menyangkut cara melakukan perbuatan manusia. Etiket menunjukkan cara yang tepat artinya cara yang diharapkan serta ditentukan dalam sebuah kalangan tertentu.
Etika tidak terbatas pada cara melakukan sebuah perbuatan, etika member norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut masalah apakah sebuah perbuatan boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan.
Etiket hanya berlaku untuk pergaulan.
Etika selalu berlaku walaupun tidak ada orang lain. Barang yang dipinjam harus dikembalikan walaupun pemiliknya sudah lupa.
Etiket bersifat relatif. Yang dianggap tidak sopan dalam sebuah kebudayaan, dapat saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain.
Etika jauh lebih absolut. Perintah seperti “jangan berbohong”, “jangan mencuri” merupakan prinsip etika yang tidak dapat ditawar-tawar.
Etiket hanya memadang manusia dari segi lahiriah saja sedangkan etika memandang manusia dari segi dalam. Penipu misalnya tutur katanya lembut, memegang etiket namun menipu. Orang dapat memegang etiket namun munafik sebaliknya seseorang yang berpegang pada etika tidak mungkin munafik karena seandainya dia munafik maka dia tidak bersikap etis. Orang yang bersikap etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik.
Etika perlu dibedakan dari moral. Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat pada sekelompok manusia. Ajaran moral mengajarkan bagaimana orang harus hidup. Ajaran moral merupakan rumusan sistematik terhadap anggapan tentang apa yang bernilai serta kewajiban manusia.
Etika merupakan ilmu tentang norma, nilai dan ajaran moral. Etika merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran moral. Pemikiran filsafat mempunyai 5 ciri khas yaitu bersifat rasional, kritis, mendasar, sistematik dan normatif (tidak sekadar melaporkan pandangan moral melainkan menyelidiki bagaimana pandangan moral yang sebenarnya).
Etika (ethics) berarti moral sedangkan etiket (etiquette) berarti sopan santun.
Etiket menyangkut cara melakukan perbuatan manusia. Etiket menunjukkan cara yang tepat artinya cara yang diharapkan serta ditentukan dalam sebuah kalangan tertentu.
Etika tidak terbatas pada cara melakukan sebuah perbuatan, etika member norma tentang perbuatan itu sendiri. Etika menyangkut masalah apakah sebuah perbuatan boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan.
Etiket hanya berlaku untuk pergaulan.
Etika selalu berlaku walaupun tidak ada orang lain. Barang yang dipinjam harus dikembalikan walaupun pemiliknya sudah lupa.
Etiket bersifat relatif. Yang dianggap tidak sopan dalam sebuah kebudayaan, dapat saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain.
Etika jauh lebih absolut. Perintah seperti “jangan berbohong”, “jangan mencuri” merupakan prinsip etika yang tidak dapat ditawar-tawar.
Etiket hanya memadang manusia dari segi lahiriah saja sedangkan etika memandang manusia dari segi dalam. Penipu misalnya tutur katanya lembut, memegang etiket namun menipu. Orang dapat memegang etiket namun munafik sebaliknya seseorang yang berpegang pada etika tidak mungkin munafik karena seandainya dia munafik maka dia tidak bersikap etis. Orang yang bersikap etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik.
Etika perlu dibedakan dari moral. Ajaran moral memuat pandangan tentang nilai dan norma moral yang terdapat pada sekelompok manusia. Ajaran moral mengajarkan bagaimana orang harus hidup. Ajaran moral merupakan rumusan sistematik terhadap anggapan tentang apa yang bernilai serta kewajiban manusia.
Etika merupakan ilmu tentang norma, nilai dan ajaran moral. Etika merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran moral. Pemikiran filsafat mempunyai 5 ciri khas yaitu bersifat rasional, kritis, mendasar, sistematik dan normatif (tidak sekadar melaporkan pandangan moral melainkan menyelidiki bagaimana pandangan moral yang sebenarnya).
Mengapa filsafat bersifat runtut(koheren) dan komperhensif?
Sifat koheren sangat berguna untuk menghindari kelemahan yang biasanya terkandung dalam suatu system kefilsafatan yang berupa kontrakdisi-kontrakdisi. Karena fungsinya tersebut, sifat koheren sangat berguna dalam filsafat agar suatu bagan dalam filsafat bersifat konsisten terhadap suatu hal dan menjauhkan dari kontradiksi yang mungkin akan muncul.
Sifat komperhensif digunakan untuk membatasi filsafat agar tidak ada sesuatu pun darinya yang berada di luar jangkauan. Hal ini dilakukan agar filsafat dapat di terima di kalangan masyarakat dan tidak dikatakan berat sebelah dan tidak memadai.
Sifat komperhensif digunakan untuk membatasi filsafat agar tidak ada sesuatu pun darinya yang berada di luar jangkauan. Hal ini dilakukan agar filsafat dapat di terima di kalangan masyarakat dan tidak dikatakan berat sebelah dan tidak memadai.
Cabang-cabang filsafat
Filsafat Spekulatif :
mengadakan refleksi secara mendalam atas “apa yang ada”, “apa yang nyata”.
Termasuk dalam cabang ini:
Metafisika umum(ontologi) :
berefleksi tentang “ada”, “yang ada”.
Metafisika khusus :
berefleksi tentang “ada” dari setiap “yang ada”, misalnya: filsafat manusia tentang “ada” dari manusia. Filsafat ketuhanan tentang “ada” dari Tuhan.
Filsafat praktis(normatif) :
berefleksi tentang “apa yang seharusnya ada”, misalnya: etika atau filsafat moral :studi kritis tentang moralitas.
Filsafat kritis :
mengadakan refleksi kritis tentang apa yang dipikirkan dan apa yang dilakukan.
Misalnya :
Epistemologi (filsafat pengetahuan):
berusaha menjawab pertanyaan apakah itu pengetahuan dan kebenaran?
Logika :
menganalisis keabsahan logis jalan pikiran menuju kesimpulan dan kebenaran pertanyaan-pertanyaan
Filsafat ilmu pengetahuan :
menganalisis metode-metode ilmiah dan konsep2 dasar dalam ilmu pengetahuan.
Filsafat bahasa :
menganalisis makna bahasa dalam komunikasi.
mengadakan refleksi secara mendalam atas “apa yang ada”, “apa yang nyata”.
Termasuk dalam cabang ini:
berefleksi tentang “ada”, “yang ada”.
Metafisika khusus :
berefleksi tentang “ada” dari setiap “yang ada”, misalnya: filsafat manusia tentang “ada” dari manusia. Filsafat ketuhanan tentang “ada” dari Tuhan.
Filsafat praktis(normatif) :
berefleksi tentang “apa yang seharusnya ada”, misalnya: etika atau filsafat moral :studi kritis tentang moralitas.
Filsafat kritis :
mengadakan refleksi kritis tentang apa yang dipikirkan dan apa yang dilakukan.
Misalnya :
Epistemologi (filsafat pengetahuan):
berusaha menjawab pertanyaan apakah itu pengetahuan dan kebenaran?
Logika :
menganalisis keabsahan logis jalan pikiran menuju kesimpulan dan kebenaran pertanyaan-pertanyaan
Filsafat ilmu pengetahuan :
menganalisis metode-metode ilmiah dan konsep2 dasar dalam ilmu pengetahuan.
Filsafat bahasa :
menganalisis makna bahasa dalam komunikasi.
Ciri-ciri filsafat
Konseptual :
aktivitas berfilsafat tidak membatasi diri pada data-data empiris yang konkret. Filsafat membutuhkan daya abstraksi yang tinggi agar tiba pada konsep-konsep universal tentang realitas. (butuh daya imajinasi dan kekuatan abstraksi yang tinggi)
Koheren :
konsep-konsep yang diciptakan dalam pemikiran filsafat haruslah runtut, mempunyai pertalian satu dengan yang lain. Konsep-konsep tidak bertabrakan satu thadap yang lain atau saling bertentangan secara tidak masuk akal.
Logis dan sistematis :
logis berarti benar menurut penalaran akal sehat dan tidak mengandung kontradiksi. Sistematis berarti konsep-konsep koheren itu membentuk satu kesatuan integratif.
Komprehensif :
semua konsep-konsep yang koheren, logis, dan sistematis berkumpul menjadi satu keseluruhan pengalaman tentang realitas dan manusia.
aktivitas berfilsafat tidak membatasi diri pada data-data empiris yang konkret. Filsafat membutuhkan daya abstraksi yang tinggi agar tiba pada konsep-konsep universal tentang realitas. (butuh daya imajinasi dan kekuatan abstraksi yang tinggi)
Koheren :
konsep-konsep yang diciptakan dalam pemikiran filsafat haruslah runtut, mempunyai pertalian satu dengan yang lain. Konsep-konsep tidak bertabrakan satu thadap yang lain atau saling bertentangan secara tidak masuk akal.
Logis dan sistematis :
logis berarti benar menurut penalaran akal sehat dan tidak mengandung kontradiksi. Sistematis berarti konsep-konsep koheren itu membentuk satu kesatuan integratif.
Komprehensif :
semua konsep-konsep yang koheren, logis, dan sistematis berkumpul menjadi satu keseluruhan pengalaman tentang realitas dan manusia.
Apa arti filsafat?
Dari kata philo dan Sophia. Philo(cinta) dan Sophia (bijaksana, pengetahuan, kebenaran, dasar) sehingga filsafat berarti mencintai kebijaksanaan dan pengetahuan.
Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar.
Filsafat juga a way of thinking, cabang dari ilmu pengetahuan yang biasanya sangat mendasar dan menimbulkan berbagai pertanyaan.
Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu.
Subscribe to:
Posts (Atom)